Showing posts with label sirah. Show all posts
Showing posts with label sirah. Show all posts

Sunday, March 27, 2011

::Kesantunan itu::

Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya (janji Allah) kepada kamu, ketika kamu hancurkan mereka dengan izin-Nya (izin Allah), sehinggalah hati (semangat) kamu menjadi lemah dan berbantahan (sesama sendiri) dalam urusan (perang Uhud) itu dan kamu derhakai (perintah rasul) sesudah Dia (Allah) perlihatkan kepada kamu apa yang kamu gemari (harta rampasan). Ada antara kamu yang mahukan dunia, dan ada yang mahukan akhirat. Kemudian Dia (Allah) memalingkan kamu daripada mereka (menewaskan kamu), sebagai ujian bagi kamu. Dan sesungguhnya Dia (Allah) sudah memaafkan kamu. Dan Allah memberikan kurnia kepada orang yang beriman.  



(Ingatlah) ketika kamu lari tanpa berpaling kepada sesiapa pun (ketika perang Uhud), padahal rasul (yang berada) di kalangan (kawan-kawan) kamu yang lain memanggil kamu. Lalu Dia (Allah) timpakan ke atas kamu kesedihan demi kesedihan agar kamu tidak berdukacita terhadap (keuntungan) yang luput daripada kamu dan terhadap musibah yang menimpa kamu. Dan Allah adalah al-Khabir (Maha Mengenal) terhadap apa yang kamu lakukan. 


Kemudian Dia (Allah) turunkan kepada kamu ketenteraman selepas kesedihan, iaitu rasa mengantuk yang mengenai segolongan daripada kamu sementara segolongan (yang lain) mementingkan diri sendiri (hinggakan) mereka mengadakan prasangka yang tidak benar terhadap Allah, iaitu prasangka Jahiliyyah. Mereka berkata: “Apakah ada sesuatu (kekuasaan) bagi kita dalam urusan ini?” Katakanlah: “Seluruh urusan itu kepunyaan Allah.” Mereka menyembunyikan dalam diri (hati) mereka hal yang mereka tidak nyatakan kepada engkau (Muhammad saw). Mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita sesuatu (kekuasaan) dalam urusan ini tentu kita tidak terbunuh di sini.” Katakanlah: “Walaupun kamu berada di dalam rumah kamu, nescaya orang yang sudah ditentukan terbunuh itu akan keluar ke tempat mereka terbaring (menemui ajal).” Dan kerana Allah hendak menguji apa yang ada di dalam dada kamu dan untuk membersihkan apa yang ada di dalam hati kamu. Dan Allah adalah al-‘Alim (Maha Mengetahui) terhadap isi hati.  
Sesungguhnya orang di kalangan kamu yang berpaling pada hari pertempuran dua angkatan (perang Uhud) itu, tidak lain (melainkan) mereka digelincirkan oleh syaitan disebabkan amal (kesalahan) yang mereka telah lakukan (sebelum ke medan perang), tetapi Allah telah memaafkan kamu, sesungguhnya Allah adalah al-Ghafur (Maha Pengampun), lagi al-Halim (Maha Penyantun).   
(QS: Ali-Imran;3:152-155) 


Tatkala membaca surah ini, terasa sangat lembut dan penyantunnya Allah itu kepada hamba-hambaNya. Kisah perang Uhud, di mana para muslimin dikalahkan kerana mereka melanggar arahan nabi Muhammad saw agar tetap di tempat masing-masing walau apa pun yang berlaku. Akibat terpesona dengan harta rampasan perang yang ditinggalkan oleh tentera kafir, para pemanah berlari meninggalkan tempat masing-masing lantas membolehkan Khalid Al-Walid membolos pertahanan kaum Muslimin. Besarnya harga yang perlu dibayar atas keingkaran terhadap arahan Rasulullah saw- syahidnya ramai Muslimin dalam perang tersebut.


Namun, apa yang Allah kata dalam ayat 152-155 surah Ali-Imran ini? Allah ulang 2 kali dalam 4 ayat ini, Allah telah memaafkan kamu. Mudahnya Allah memaafkan kita, dengan syarat kita menyedari kesalahan kita dan bertaubat kepada-Nya. Betapa penyantunnya Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dan Allah berfirman untuk memberitahu manusia bahawa kesedihan itu ditimpakan agar kita tidak berdukacita dengan keuntungan yang luput daripada kita dan terhadap musibah yang menimpa. Dan Allah sambung lagi pada ayat seterusnya, menjelaskan kekuasaan adalah hak mutlak Allah. Dialah yang menentukan sesuatu, bukanlah kita, hamba-hamba-Nya yang kerdil ini. Oleh itu, walau apa pun yang kita lakukan, segala ketentuan Allah pasti akan berlaku, biar pun kita cuba untuk menghalangnya,Jadi, usahlah berdukacita, kerana Allah hendak membersihkan hati kita.


Dan komentari Allah terhadap perang ini :


Dan janganlah kamu berasa lemah dan berdukacita, sesungguhnya kamu adalah yang paling tinggi jika kamu (benar-benar) orang yang beriman.Jika kamu mendapat luka (dalam peperangan Uhud), kaum (yang memerangi kamu) itu juga telah mendapat luka yang serupa (dalam peperangan Badar). Demikianlah Kami (Allah) pergilirkan hari-hari itu antara manusia, dan kerana Allah hendak menyatakan mereka yang beriman, dan menjadikan di kalangan kamu syuhada (orang yang mati syahid atau yang menjadi saksi). Dan Allah tidak menyukai orang yang zalim. 
(QS: Ali-Imran;3:139-140)
Apa lagi yang Allah kata?
Dan jangan kamu sangka orang yang terbunuh pada jalan Allah itu mati; bahkan mereka hidup di sisi Rab (Tuhan) mereka dan mereka mendapat rezeki.

(QS: Ali-Imran;3:169)

Betapa lembutnya dan halusnya pujukan Allah terhadap kekalahan kaum Muslimin ketika itu. Betapa  kasihnya Allah kepada kita, kaum Muslimin, biarpun kekalahan itu adalah daripada kelalaian kita sendiri, namun kecintaan Allah kepada kita, pujukan Allah kepada kita, sangatlah mesra. Seluruh surah ini mencerminkan sifat maha penyantun dan maha penyayang Allah terhadap hamba-hambaNya walaupun hamba-hamba-Nya telah melakukan kesalahan. Walaupun hamba-hamba-Nya ini telah mengingkari arahan kekasihNya; Rasulullah saw. Tidak cukupkah lagi kasih itu untuk menjadi pendorong kita untuk bertaubat kepada-Nya. 

Dari Anas r.a, katanya : " Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : ' Telah berfirman Allah Ta'ala : 
 
Wahai anak Adam ! Setiap kali engkau berdoa berharap kepadaKu, Aku akan tetap mengampunimu atas segala dosa yang engkau lakukan, dan Aku tiada peduli. Wahai anak Adam ! Andaikata dosa-dosa kamu setinggi langi kemudian kamu memohon keampunanKu, nescaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam ! Andaikata engkau datang padaku dengan dosamu sepenuh bumi ini, kemudian engkau menemuiKu, pada hal tiada engkau menyekutui akan Aku dengan sesuatu pun, nescaya Aku akan datang kepadamu dengan keampunan sepenuh bumi pula.   
(Hadis 42 daripada Hadis 40 Imam Nawawi)






P/s: Masih mencari secebis kekuatan untuk meneruskan langkah-langkah menempuh hari yang mendatang~ 
terasa kelembutan itu kala ini~ 






Monday, February 7, 2011

::Reminder of the Heart::

Narrated 'Umar bin Al-Khattab:I heard Allah's Apostle saying, "The reward of deeds depends upon the intentions and every person will get the reward according to what he has intended. So whoever emigrated for worldly benefits or for a woman to marry, his emigration was for what he emigrated for."
(Bukhari :: Book 1 :: Volume 1 :: Hadith 1) 

That incident was last week's, but still remained as a fresh memory in her mind. As if, she could not let it go, even when everything was supposed to be settled. She wanted to let it go, but couldn't. And today, a reminder from Him yet again, to remind her of her true intention.

Why was she angry in the first place? Was it because of Allah? If so, He had fixed everything now. Why did she still feel that anger deep inside her heart? What was the reason now? Allah or her own self; her nafs? 

Yes, first intention can be for good but it can be diverted within the course of obtaining one's goal. We usually intend to do good, but as we encounter an obstacle that challenges us mentally and physically, we might divert our intention purely to satisfy ourselves, and our ego. It might sound a bit of a small matter, but syaitan can mislead us in things we are not aware of.

With that in her mind, she took a deep breath and rethink of her actions and intention. Yes, she was indulged in her own emotion for too long of a time. It's time to let things go and start over again. Saidina Ali karamallahu wajhah, after being spit at,  stop himself from killing someone in a battle field, fear of killing not for the sake of Allah but for the anger that he felt. That was in battle field, battling the enemy of Allah and His prophet saw, it was even a clear cut situation where the differences between the two parties were obvious. Her situation was just a small insignificant one when being compared side by side with that seerah. 

So the right thing for her to do now is to let things go and starts fresh. People do make mistakes, because sometimes people did not realise it. It is the duty of anybody who are aware of the mistakes to correct it; amar ma'aruf nahi munkar. Correcting not to show supremacy but because of the love that we have for each other. Correcting with the intention to see each other in Jannah and not to signify that we are better than the other people. Correcting without the intention to humiliate, but truly for the sake of Allah, Him and Him alone, inshaAllah.

"Alhamdulillah, thank you Allah for the reminder that was sent,"she whispered slowly.

Sunday, January 30, 2011

::Hakikat Natijah::

Penatnya apabila kita bermain dengan perasaan, tambahan apabila kita mengira bahawa usaha kita yang menentukan kejayaan sesuatu perkara.
Wahai diri, sedarilah hakikat natijah sesuatu perkara hanya milik-Nya semata-mata, kita hanya mampu berusaha,Dia jugalah yang menentukan yg terbaik. 
Wahai diri, usahalah semampunya dan serahkan kembali semua kepada Yang Maha Mengetahui,nescaya ketenangan akan menyelubungi hatimu ini,inshaAllah~ 


Penatnya apabila apa yang kita usahakan membuahkan hasil yang dirasakan tidak setimpal. Penatnya apabila setiap tindakan kita ditentangi daripada pelbagai sudut sedangkan kita mengira bahawa apa yang kita lakukan ini hanyalah kerana Allah semata-mata. Penatnya apabila kita mempersoalkan kenapa begini dan begitu dalam  tindakan orang-orang di sekeliling kita, merasakan salahnya mereka berbuat demikian. 

Perbincangan itu membuatkan diri ini berfikir kembali, bukanlah hak manusia untuk menentukan salah atau betulnya sesuatu tindakan, selagi mana ianya tidak bertentangan dengan syarak. Dan sekalipun ia bersalahan dengan anjuran Rasulullah saw,tarbiyah Allah kepada baginda apabila kata sepakat tidak dapat dipersetujui ialah:
 
خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَـٰهِلِينَ
"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh"
(Al-A'raf;7:199) 

 
وَلَا تَسۡتَوِى ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ‌ۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِى هِىَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُ ۥ عَدَٲوَةٌ۬ كَأَنَّهُ ۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ۬
"Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia"
(Fussilat; 41:35) 
 
 
وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٲلِكَ لَمِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ
"Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia"
(Asy-Syura; 42:43)
 

Allah mendidik baginda Rasulullah saw dan para sahabat bahawa dalam menghadapi tentangan, sabar itulah yang paling baik. Sehinggakan Allah menggariskan ciri ini dalam orang-orang yang dicintai-Nya :
 
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡڪَـٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ‌ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
"(iaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang mahupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan"
(Ali-Imran; 3:134)


Bahkan, 
 Allah menyambung selepas ayat ke-34 surah Fussilat, selepas Allah menggariskan penolakan terhadap keburukan dengan sesuatu yang lebih baik bahawa sifat ini tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.

 
وَمَا يُلَقَّٮٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّٮٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ۬ 
"Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar"
(Fussilat; 41:35)


Betapa seerah baginda mengajar bahawa kita hanya mampu berusaha, namun ketentuan kepada usaha itu hanyalah milik Allah semata-mata. Tidak kiralah dalam apa jua perkara, sama ada dalam pelajaran, atau pun dalam perjuangan kita mengajak manusia mengenali si Dia. Dia jugalah yang memegang hati-hati itu. Dan Dia juga yang lebih mengetahui kebenaran niat kita dalam setiap tindakan yang kita ambil. Dan dalam setiap liku-liku perjuangan yang kita tempuhi, setiap mehnah yang kita harungi, Dia jugalah yang menentukan natijah perjuangan itu. Penatnya kita mempertikaikan sesuatu perkara yang sebenarnya berada di luar kemampuan dan bidang kuasa kita hanyalah perkara sia-sia.


P/s: Peringatan kepada diri sendiri yang seringkali tenggelam dalam mainan perasaan. Seringkali kalah kepada bisikan hati kecil yang dipengaruhi oleh nafsu amarah dan hasutan halus syaitan.

Tuesday, January 25, 2011

::Uswatun Hasanah::


لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ۬ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأَخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرً۬ا
"Verily in the messenger of Allah ye have a good example for him who looketh unto Allah and the Last Day, and remembereth Allah much"

"sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingati Allah"
(Al-Ahzab;33:21)


Kisah Pengislaman Abul Ash Laqith bin Ar-Rabi' bin Abdis Syams bin Abdi Manaf bin Qushai Al-Quraisyi. 

Walaupun beliau menantu Rasulullah saw, beliau tidak memeluk Islam semasa baginda mula-mula berdakwah di Makkah. Bahkan Zainab, puteri Rasulullah saw menebusnya dengan kalung kepunyaan Khadijah semasa beliau menjadi tebusan perang Badar. Kalung yang membangkitkan kembali kenangan Rasulullah bersama Khadijah yang membuatkan baginda menjadi sebak. Lantas beliau dibebaskan dan kalung itu dipulangkan agar kembali semula kepada Zainab. Abul Ash berjanji akan membebaskan Zainab dan membenarkannya berhijrah ke Madinah. Berlakulah penghijrahan Zainab ke Madinah meninggalkan suami tercinta.

Suatu ketika, kafilah dagang kaum musyrikin Makkah melewati Madinah dan dihalang oleh pihak Muslimin. Ahli kafilah tersebut melarikan diri dan pihak muslimin merampas barangan dagangan mereka. Abul Ash yang merupakan salah sorang ahli kafilah tersebut meminta pertolongan Zainab agar merayu kepada ayahanda beliau, Rasulullah saw agar memulangkan kembali barang2 dagangan tersebut kerana barangan tersebut bukanlah miliknya tetapi milik orang-orang Quraisy Makkah yang diletakkan di bawah jagaannya sahaja. Rasulullah memperkenankan permintaan puterinya dan Abul Ash dibenarkan membawa pulang barang dagangan tersebut ke Makkah.

Bergegaslah Abul Ash pulang ke Makkah demi menyempurnakan amanahnya. Setelah semua penduduk Makkah berpuas hati mendapat kembali barang dagangan mereka, Abul Ash menyatakan keislamannya dan berhijrah ke Madinah untuk bersama saudara-saudara seaqidahnya.






Ibrah (pengajaran)

Walaupun Abul Ash ialah menantu kepada baginda Rasulullah saw, namun beliau tidak memeluk Islam semasa baginda berdakwah selama 13 tahun di Makkah. Namun, hidayah Allah datang atas asbab (sebab) kagumnya beliau dan tersentuhnya beliau dengan kebaikan, kemuliaan dan kehebatan peribadi Rasulullah saw. Kehebatan peribadi yang ditunjukkan oleh Rasulullah yang dikatakan oleh Aisyah r.a sebagai akhlak Al-Quran. 



Pandangan pertama atau "first impression" adalah perkara yang paling orang akan ingat tentang kita dan seharusnya "first impression" tentang kita adalah akhlak kita, kerana akhlak adalah sesuatu yang lahir dari hati dan tidak dipengaruhi oleh faktor persekitaran. Hebatnya akhlak Rasulullah sehingga berjaya mengislamkan Abul Ash, hebatnya akhlak kaum muslimin sehingga ramainya orang yang memeluk Islam setelah Islam dipraktikkan sebagai cara hidup secara terang-terangan apabila berlakunya pembukaan Kota Makkah. Namun,  di manakah akhlak kita apabila dibandingkan dengan akhlak mereka? 




Source: 
A'seef sekiranya berlaku salah fakta di mana-mana dan minta dibetulkan sekiranya salah. Jazakumullahu khayr.

Wednesday, January 5, 2011

::Islamic civilization::



‎"Those are a people who have passed away. Theirs is that which they earned, and yours is that which ye earn. And ye will not be asked of what they used to do." 

(Al-Baqarah; 2:134)



When we read the history, we talked about great Islamic scholars, who discovered diversity of knowledge, that became the base of modern knowledge. We talked about the four great caliphates of khulafa' ar-rasyidin, the sahabah; (the unique Quranic generation), the imams, and many other great people. But is that all that we need to do? Are we done? Did we fulfill our purpose of life by just talking about it? 

Yes, Islamic empires were on top of the world during their times. Rashidun Caliphate, Umayyad caliphate, Abbasid caliphate and Ottoman caliphate were among the four caliphates that most Muslims know and cherished. But is that all? Is it enough just knowing? 

They have done their part in upholding this Deen, and inshaAllah, they will be rewarded by Allah in the hereafter, but us. We have a long way to go. We have to continue what they have done, we have to improve ourself and be the best that we can be, fulfilling our utmost potential so that we can bring back Islam to it's right position , inshaAllah



Wednesday, July 28, 2010

::Conceptualizing::

The first thing that i learnt in Pushing Boundaries activities was how to apply concept. the fact that we will not encounter the same experience twice in our life, but the gist of the lesson is we may encounter problems with the same concept. We may not face the same exams again, even though we might have gone through the paper before, and the time constraint is the same, but there will be some differences in the situations; be it our knowledge, our emotions, or whatever it might be.

When i was browsed through Rasulullah's seerah, how he and the Muslims in his time had encountered numerous war (perang), be it Perang Badar, Perang Uhud, Perang Hunain and many more. If we see them as wars, it would be the same for each one of them. Then, why Allah bothers to set them to go to war every now and then? It was not the same every time. Yes, there were a few same concepts in the war, but there were always new things that Allah wants them to learn. How fortunate right? to be taught directly by HIM. Subhanallah! Let say in Perang Badar, He taught the Muslims to rely only in His strength as they were outnumbered; Muslims 300++ while the Kuffar 1000 ++. In Perang Uhud, He taught them to obeyed the order of Rasulullah (leaders), and it was a very painful and expensive lesson as many of us, Muslims, syaheed during this war. If we look thoroughly in each war, there will always a big theme in every events that Allah had set for them, different from each other.

The same thing goes to us. We have to learn from every events that occurs in our life. The ibrah (lessons) that Allah wants us to learn. There will always be something new that we might learn if we look hard enough for it. We need to learn how to conceptualize and apply it back to our daily life. I learnt it in the Pushing Boundaries camp, while Allah had used this method to teach Muslims long time ago. Another prove that all the knowledge in this world is HIS, even though taught in a camp that may be considered to have nothing to do with ISLAM, right?

Well...Think about it.

Saturday, November 28, 2009

::CINTA::


DETIK-DETIK RASULLULLAH S.A.W KETIKA SAKARATUL MAUT
Sebuah kisah tentang cinta, yang benar-benar cinta telah dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turut menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua,"keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia.Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"."Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini."Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?". "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyatnya sakit maut ini, timpakan saja semua kesakitan maut ini kepadaku, jangan pada umatku."Begitu sekali cinta kasih Rasul kepada umatnya, adakah kita mengasihi Rasul sepertimana beliau sayangkan kita sebagai umatnya?
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinar itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Fikirkanlah wahai sahabat- sahabatku sekalian.wajarkah kita menyintai orang lain selain Allah dan Rasul sedangkan itulah cinta utama kita.. jgnkan Allah dan Rasul, cinta ibu bapa juga masih tidak berbalas dengan yang sepatutnya, kini kita serahkan perasaan kasih kite kepada mereka yang bru kita kenal yg tempohnya xsmpai pun 1/4 daripada umur kita????

PEMERGIANMU-INTEAM

(Ya Rasulullah...)

Kau masih tersenyum mengubat lara
Selindung derita yang kau rasa
Senyuman yang mententeramkan
Setiap insan yang kebimbangan
Hakikatnya, tak tertanggung lagi derita
Di pangkuan isterimu Humaira
Menunggu saat ketikanya
Diangkat rohmu bertemu Yang Esa
Tangan dicelup di bejana air
Kau sapu di muka mengurangkan pedih
Beralun zikir menutur kasih
Pada umat dan akhirat
Dan tibalah waktu ajal bertamu
Penuh ketenangan jiwamu berlalu
Linangan air mata syahdu
Iringi pemergianmu
Oh sukarnya untuk umat menerima
Bahkan payah untuk Umar mempercaya
Tetapi iman merelakan jua
Bahawa manusia kan mati akhirnya
Tak terlafaz kata mengungkap hiba
Gerhanalah seluruh semesta
Walaupun kau telah tiada
Bersemarak cintamu selamanya
Ya Rasulullah
Kau tinggalkan kami warisan yang abadi
Dan bersaksilah sesungguhnya
Kami merinduimu


Other posts:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...